Uncategorized

Siapa yang lebih bahagia?

Kalau sudah berpisah, tak usah lagi berkompetisi “siapa yang lebih bahagia?”

Ingat, alasan utama untuk berpisah adalah untuk memiliki kebahagiaan masing-masing

-Shantidewi-

Advertisements
Standard
djounal, life

Universe Talks

Senin 22:37 – Selasa, 00:21

RSUD Tarakan, Jakarta.

Halo, Dinda disini. Sedang berkutat dengan freelance tapi ga punya ide, disamping gue ada Ibu yang sedari tadi siang selesai di athroscopy dan sekarang sedang tertidur meski sesekali bangun meringis kesakitan karena kakinya yang abis di operasi.

Sedari tahun lalu lutut Ibu ada pengapuran dan tingkatnya sudah cukup parah. Gue dan keluarga mencari banyak informasi dari orang-orang terdekat dan internet (ya millenials banget) akhirnya Ibu memutuskan untuk athroscopy. Setelah berkutat selama 4 bulan dengan faskes 1, Rumah sakit tipe C, sampai akhirnya ke RSUD Tarakan, akhirnya baru hari ini Ibu dioperasinya.

Lalu apa hubungannya dengan universe talks?

ada, ada hubungannya dengan hidup gue.

Beberapa waktu lalu, gue menyadari diri gue not-so-happy-and-passionate-anymore dengan pekerjaan gue. Tapi tentunya karena gue butuh duit maka gue mengesampingkan pikiran itu dan tetap bekerja sebagai mana mestinya. Bahkan gue sempet liburan untuk me-refresh pikiran gue supaya bisa balik kerja seperti biasa. Oiya, pernah juga nyoba curhat online, tapi ternyata tidak efektif ya saudara sekalian.

Tentunya, perasaan buntu itu “hilang dan timbul” lagi, pokoknya soundtrack gue kali itu Adele – chasing pavements lah! Tapi dasar anaknya kebanyakan mikir, gue selalu maju mundur tiap kali mau mengatakan resign. Alasannya, mulai dari butuh uang, hingga gue belum punya back up plan kalaupun gue resign nantinya.

Awal tahun yang seharusnya punya semangat baru, gue malah merasa berada dititik terendahnya, tapi gue merasa gue ga punya alasan untuk keluar kalau hanya sekedar “tidak lagi punya passion”, lucunya disaat gue merasa se-hopeless enggak tau mau gimana ini, keluarlah keputusan Ibu untuk operasi. okay, Universe, i got your code :). Lalu munculah keyakinan, ini memang waktunya.

Gue percaya dengan universe talks, untuk gue yang terlalu banyak mikir ada saatnya gue merasa hopeless dan ga capable untuk ngambil keputusan sehingga gue butuh bantuan-Nya. Jadi terkadang gue cuma bisa berdoa sambil ngasih alternatif – alternatif permintaan gue (iya, anaknya tetep banyak mau) kemudian biarlah Allah yang menjawab doa gue dengan caranya.

Seperti keputusan resign ini. Hati gue lega ketika Ibu operasi, gue bisa nemenin Ibu full day.






Standard
djounal, life

Ditempat sosis kentang

“Kamu mungkin ga ninggalin aku?”

“Hmmm.. ya mungkin sih”

“Kalau kenapa?”

“Kalau kamu ga nikah-nikahin aku”

“Lah itu mah dari sekarang aja”

“Yah jangan gitu dong, aku udah siap loh buat tinggal sama kamu dikamar kostan”

Dika mengangguk.

Dan gue melanjutkan, “lagian kan kamu yang bilang, jangan ngomong terlalu manis. Nanti aku bilang ya gakan lah sayang, terus kita bener ga jadi, aku jahat loh”.

“Oh iya bener!”

Shall we see what will happen next?

See you in another coversation!

Standard
Uncategorized

Masih Kosong

Saya ingat 2 tahun yang lalu, saat saya masih bekerja di kantor lama saya, setiap harinya selama 1,5 tahun saya terluka karena harus mengerjakan pekerjaan yang saya tidak mau.

Terlalu sombong padahal kosong, saya selalu berfikir saya bisa menjadi yang lebih baik dan sudah waktunya untuk melaju.

2 Tahun yang lalu ketika saya tidak menginginkan pekerjaan saya , maka saya mengatakan hal ini pada General Manager kantor, “promosikan saya, atau lepas”

Lucunya, saya dilepas. Seperti anak ayam yang bahkan masih terlalu kuning, merasa dirinya sudah sehebat induknya padahal dirinya bisa jadi bulan-bulanan cacing cari perkara. Tidak ada pilihan lain hingga akhirnya saya pergi, keluar dari tempat yang menjadi kantor ternyaman sepanjang saya bekerja.

Kemudian setahun yang lalu ketika saya merasa bisa menjadi yang saya mau. Saya dihadapkan dengan realita kalau saya masih menjadi anak ayam kuning, atau untuk sedikit hiburan anak ayam yang bulunya baru mau berubah warna. Saya belum siap menjadi hebat.

Pilihannya ketika dihadapkan pada realita bahwa saya masih saya saja orang yang payah hingga saya harus mengambil jalan lain untuk setidaknya mencoba jadi hebat, Atau dengan tittle job yang saya inginkan namun saya harus terseok-seok disetiap harinya. Maka saya memilih ambil jalan lain. Jalan yang mungkin saya tidak pernah bayangkan sebelumnya. Namun berkah dibaliknya saya menjadi yang saya bayangkan di 2 tahun yang lalu.

Seiring berjalannya waktu, saya mengerti kalau sepatah kata bisa merusak keseluruhan jaringan. Jadi alangkah baiknya untuk lebih bijaksana dalam mengambil keputusan. Karena waktu berjalan, umur  yang bertambah, saya harus lebih dewasa dari 2 tahun yang lalu.

Salam hangat dari yang saat ini tentunya saja masih kosong, dan jauh dari hebat. Tidak jauh berbeda dari 2 tahun yang lalu.

 

Warm Regards,

Dinda Shantidewi.

 

 

Standard
djounal, life

Online vs Konvensional dimata Pengguna

Tangerang beberapa hari belakangan ini lagi chaos banget karena para supir angkot demo perihal adanya ojeg online, yang dimata mereka adalah pengambil rezeki mereka disetiap harinya. Sementara kita ga bisa pungkiri, bagi kita anak-anak muda yang melek teknologi, ojeg & taxi online adalah jawaban doa-doa kita (oke, gue) yang memfasilitasi beberapa kebutuhan  kita dengan harga yang cukup reasonable, bahkan murah kalau kita udah dapet promo.

Contoh : pergi kemana-mana, order makanan saat mager, kirim barang yang sebenernya satu daerah tapi kita ga bisa ketemuan, dan lain lain.

Apalagi untuk seorang gue yang mobilitasnya cukup tinggi, kalau gue harus pergi ke 4 rangkaian tempat dalam satu waktu kerja, ojeg online adalah transportasi paling tepat. karena : efisiensi waktu, murah, banyaknya armada dan yang terakhir adalah ada bukti perjalanan (invoice) yang bisa gue ajukan untuk reimburse kekantor. Enggak kebayang kalau gue harus nunggu angkutan umum (angkot atau bus) yang nilai minusnya ada di efisiensi waktu dan jarak, karena belum tentu searah dengan tujuan gue meskipun mungkin memang murah, atau pilihan terakhir adalah taxi konvensional yang harganya jauh banget sama ojeg online (yha menurut lo) ga kebayang kalau gue harus ngelakuin itu seminggu dua kali, dijadikan sebulan, habis sudah gaji gue cuma untuk mobilitas.

Satu hal yang mungkin orang-orang supir taxi, supir angkutan umum dan ojeg konvensional mungkin ga ngerti.Uuntuk gue pribadi, harus “smart” dalam ngelola duit.

Tapi bukan berarti rasa iba gue udah ilang sama mereka para supir diatas, gimana pun juga mereka ada jauuuh sebelum jaman serba online, gue sedari kecil sudah biasa naik kendaraan umum. Angkot adalah angkutan gue jaman sekolah sedari SD hingga kuliah, bahkan kalau ada kegiatan renang, gue dan teman-teman prefer nyewa angkot sampai ke lokasi, satu angkot full sama anak-anak sekolah. Atau kopaja yang jadi kendaraan setelah gue turun commuter line nyambung ke gedung kantor gue, suka ga suka dengan kendaraan ini, gimanapun juga dia paling murah. Sedangkan taxi adalah transportasi paling tepat tiap pulang lembur jam 9 keatas, kalau ga ada mereka, guepun ga sanggup naik bus malem-malem.

Sementara ojeg konvensional paling berjasa diantara mereka, terutama abang-abang ojeg dikomplek yang nganterin gue dari rumah ke tujuan, mulai dari yang jaraknya deket, sedeng, bahkan jauh banget. Mulai dari gue kecil sampai sekarang. Bahkan beberapa diantara memang kenal gue dari kecil dan langganan Ibu, mau nganterin Ibu ke pasar beli ikan buat tekwan. Beneran deh, jasa mereka besar bagi gue.

Jadi kalau ditanya prefer mana, online atau konvensional? i said both. Terlepas dari lebih dan kurangnya poin-poin mereka untuk melayani kita, gimana pun juga mereka sudah jadi bagian struktur sosial di kehidupan kota. Gue pengguna keduanya, dari rumah hingga stasiun gue naik abang ojeg di komplek, dari stasiun tujuan ke kantor, gue naik ojeg online. begitu juga saat pulang. Menurut gue, meskipun ojeg online akan lebih murah, gue tetap ingin menghargai abang ojeg yang gue kenal. Tapi ketika jarak jauh, gue akan langsung naik ojeg online, well money speaks. Pernah pagi-pagi gue naik ojeg online dan diberhentiin sama abang ojeg komplek, ojeg komplek marah-marah ke abang Gojeknya merasa rejekiknya direbut. Karena gue merasa “yang mengundang” dan yang butuh, yang ada gue malah marah balik ke ojeg komplek “Saya mau ke permata hijau loh, mau ga dibayar ke permata hijau 30 ribu doang?”, kemudian gue berhasil bikin ojeg komplek diem.HAHAHA.

Saat abang angkot di Tangerang dan Bandung demo, terjadi kericuhan dan kelakuannya anarkis banget menyebabkan beberapa ojeg online celaka, bahkan di Tangerang ada abang gojek yang hilang. Video yang sempet viral adalah abang Grabike ditabrak sama angkot, pertama gue lihat itu pikiran gue “gila nih orang, sinting!”. Ada kabar yang bilang ojegnya kritis ada yang bilang sudah meninggal, entahlah. Tapi gimana pun juga, he is somebody’s son, somebody’s husband and probably somebody’s father, segampang itu nginjek gas buat ngambil nyawa orang lain? ya gue sih berharap yang nabrak dapet balesan yang setimpal.

Atau kejadian di Bandung yang keluarga dimobil termasuk anak usia 1 tahun di sweeping berujung anarkis, supirnya dijambakin dan kaca belakangnya di pecahin. Beneran kayak adegan zombie apocalypse. Kejadian yang begini bikin banyak warga yang resah, dan minta angkot untuk di tiadakan

Tapi kalau angkot ditiadakan, apa yang akan terjadi ? jalanan pasti akan lebih lancar, tapi ada Ibu-Ibu yang bawa anaknya dan ga ngerti cara pakai aplikasi pasti perlu angkot, atau mbok-mbok jamu yang dari rumahnya menuju lokasi jualannya yang cukup jauh, atau anak SD yang sebenernya jarak sekolahnya deket tapi kalau jalan kaki ya kasian aja kakinya bisa ledes. Masih banyak orang yang butuh naik angkot. Supir angkot ini bukan yang punya pendidikan tinggi, banyak diantara mereka yang masih SMP modal bisa rem sama gas udah begaya, yang penting keliatan bawa mobil meskipun angkot. Tapi coba itung ada berapa angkot yang ada di Kota Tangerang, kalau angkot ditiadakan, maka tingkat pengangguran meningkat menyebabkan tingkat kriminalitas makin tinggi. menyelesaikan? enggak, cuma mindahin perkara.

Sedari dulu gue selalu mikir mungkin ga sih ada sekolah jadi supir angkot? sekolahnya sesimpel pembinaan tapi abis itu dapetin lisensi. Tentunya dengan ajaran-ajaran “kenapa sih kalau ngetem ga boleh sembarangan dan ga boleh lama-lama?” atau “kalau jalanan ada 4 ruas, jangan ngetem ngabisini 3 ruas lainnya, karena bikin macet wey!”. Tapi serius, dishub harus banget ngerapihin angkutan umum dimulai dari edukasi para supir angkutan umum. Demi kebaikan bersama sebuah kota yang udah “lahir” puluhan tahun.

Gue berharap ga ada lagi kejadian anarkis seperti yang kemarin, karena apapun alasannya, bersikap anarkis cuma bikin lo terlihat makin ga berpendidikan. Gue juga berharap para supir taxi & ojeg online ga trauma untuk kerja di Tangerang dan Bandung, dan tentunya semoga mereka bisa memaafkan dengan apa yang terjadi dengan rekan kerja mereka, tanpa ada niatan balas dendam.

Dan semoga warga kota jadi lebih cerdas dalam memilih transportasi umum supaya mereka ga ada pihak yang merasa dirugikan.

Aamiin.

Salam, yang kemana-mana naik kendaraan umum.

Standard
Uncategorized

2016 highlights

Januari
  • Mengawali awal tahun dengan menjadi freelancer (iya, pengangguran iya)
  • Sepanjang bulan : Despreate ga punya gaji
  • 14, Sarinah ada bom, hebatnya Indonesia yang jadi trending topic #TukangSateTetepJualan #PolisiPakeGucciKamiNaksir

Februari

  • Ibu operasi syaraf di telapak tangan, bolak-balik ke rumah sakit, full quality time sama Ibu
  • Despreate akut belom dapet – dapet kerja

Maret

  • Awal bulan : DBD untuk pertama kalinya dan berjamaah dengan Ibu dan Sasha, dirawat sekamar betiga hahahaha
  • Work work work werk, baby!
  • Jogja dengan Niken Wulan dan Resty
  • Ligamen sprain stage 2 😦
  • Menemukan ig baby sitter gempita dengan motto hidup : “kalem bae lanjut maning” #cool

April

  • Nikahan Dwina & Ajeng pake kruk #ntap #pyar
  • Adele finally muncul dengan lagu barunya, bikin orang punya pacar aja ngerasa patah hati
  • Akhir bulan : nikahan Setta sok-sokan lepas kruk, taro di mobil, nyoba pake wedges 2cm

Mei

  • Di pernikahan Anind dan Firman tidak lagi pakai kruk, and it’s for good #ntap #pyar
  • Training di Surabaya, memulai jadi anak kostan, LDR sama Dika
  • Beli ember kecil harga 60 ribu dua biji, kok sedih ya? berasa mahal banget, untung itu ember warna pink!

Juni

  • #designerlyfe #anakkostanlyfe #kangenibu #kangenmasakanibu #kangenrumah #kugasanggupjadianakostan
  • Ramadhan pertama jadi anak kostan, jauh dari rumah #kurasakugashanggup
  • Ternyata ku shanggup walau ku tak mau lagi bulan puasa jadi anak kostan

Juli

  • Lebaran! pulang! pulang! pulang! akhirnya Dinda ngerasain pulang kampung!
  • Seminggu kemudian : Surabaya! Surabaya! Surabaya! 😦 😦 😦
  • Baru ditinggal 2 hari (and for the first time in forever) dapet flower bouqet dari Dika *emote ketawa sambil nangis*

Agustus

  • Ngerasain ademnya Tretes dengan konco kantor dan Dika!  ankle sprain di kaki kiri dipaksa trekking malah sembuh loh!
  • Black pink debut, ngeracunin anak kantor dengan “boombayah” #OPPAH! #semuakeracunan
  • film yang paling ditunggu : SUICIDE SQUAD. Jared letto is too handsome to be Joker srsly.
  • 19 – 21, Singapur with Cepi menjenguk princess Bindy #SubwayAllTheWay #GeretAkukeGarretStrolling around USS, Sea Aquarium, garden by the bay, Science Centre Singapore #KakiLedes3Hari + harga koyo di SG mahalnya ga kira-kira #BIAYAHIDUPSINGAPURMAHALBANGET

September

  • 4, 2 tahun setelah memulai kencan di goedkop dengan Dika
  • Melepaskan title “anak kostan”, Tangerang, padamu aku kembali!
  • Setelah 4 bulan merantau, gue mengetahui mental gue adalah mental struggling di jalanan Jakarta demi pulang kerumah, bukan mental anak kostan yang penting deket kantor. Terima kasih kepada Ibu, kini ku mengerti maksudmu.
  • 21, Niken di pinang dengan bismillah dengan Grandy dan dinda sudah kembali dengan heels #kuseneng
  • 30, Ibu resmi pensiun. Tulisan gue mengenai Anak Ibu gue buat saat gue di Surabaya, gue kirim via email dihari terakhir Ibu kerja, begitu ketemu Ibu saat kasih surprise di Kantornya, gue liat tulisan udah di forward ke email temen-temen kantornya! duh bundaaahhhhhhhh~

Oktober

  • 2, A quarter of century, 25 sounds pretty good. I’m gonna keep my mecin swaggin’ !
  • Heboh flat earth di Youtube, dan gue lebih tertarik lihat drama di komennya daripada penjelasan flat earth sendiri di videonya.

November

  • 27, happiest birthday to my delusional boyfriend, Park Chanyeol. sarangheo~ cupcupwawaw!
  • Menghadiri pernikahan mantan yang menikah dengan sepupu ketarik, now he’s officially my far-away-cousin-in-law-ception. lucu ya hidup, ketemu di pelaminan tapi salaman it’s happened to my life hihi.

Desember

  • One of the happiest and the most emotional journey, ke tanah suci dengan keluarga 🙂 alhamdulillah!do you believe in the power of prays? i do 🙂
  • akhir tahun dengan Kinanti dan Kinara yang diimport langsung dari Surabaya, main ice skating dengan Kinan bener-bener nguji kesabaran ngadepin anak sok tau, tapi satu sisi gemes bawaannya pengen ngebanting.

kalau ditanya selama 2016 hal yang paling penting terjadi dalam hidup lo yang mana? well gue gatau sih, karena dari januari hingga Desember benar-benar penuh kejutan.

Memulai 2016 dengan menjadi pengangguran hingga dapet pekerjaan lagi, kemudian sempet berada di posisi terbawah dalam hidup dan akhirnya berusaha untuk bangkit sendiri, hingga akhirnya berhasil di akhir 2016 ini, mungkin 2016 yang perlu di ingat adalah prosesnya.

lucunya, saat gue penggangguran Ibu memang lagi sering-seringnya sakit, pernah vertigo sampai operasi telapak tangan yang membuat Ibu harus bolak-balik rumah sakit. Kalau gue saat itu bekerja, mungkin Ibu akan kerumah sakit sendirian, atau gue akan sering izin kantor. see the point here? terkadang rencana Allah itu emang bener-bener epic! baru engeh pas udah ngejalanin, “oiya yah emang ada maksudnya dari nganggur ini”.

Atau juga yang tadinya kemana-mana pecicilan, sempet dikasih cobaan ankle sprain stage 2 dan bela-belain dateng kekondangan temen SMA dengan kruk dan diliatin orang-orang. sampe akhirnya sembuh dan bisa lari-lari ngejar commuter line dengan wedges 2cm, berarti 2016 juga perlu diingat betapa semangat dan sabar di setiap hari adalah salah satu cara gue untuk sembuh.

Bisa jadi menjadi anak kost diumur 24, yang sebelumnya ga pernah sama sekali jadi anak kostan atau kerja keluar kota. Ketika gue menjadi anak kostan, masuk kamar dan yang menyambut hanyalah tumpukan baju kotor, koper, dan kasur membuat kangen dengan kehebohan , berisik dan chaosnya rumah yang justru memberikan kehangatan. Sebelumnya, selama 24 tahun gue tinggal dirumah mungil dengan isi minimal 5 orang membuat gue kadang bertanya tanya kapan gue bisa hidup tenang, punya waktu dan ruang sendiri. Tapi justru ketika gue mendapatkan jawaban dari ptertanyaan gue, gue merindukan rumah iya, rumah, bukan sekedar bangunannya, tapi rasa hidup dirumah dimana lo merasa aman dan hangat karena berada diantara keluarga.

Pun akhirnya gue senang bisa merasakan pengalaman jauh dari rumah, ekspansi comfort zone, bertemu orang-orang baru dengan culture yang cukup berbeda, konco kantor yang bener-bener hangat dan ramah sedari gue pertama menginjakkan kaki di kantor Surabaya. Ternyata seorang Dinda bisa menyesuaikan diri dengan cepat dan kuat menjalani kehidupan yang berbeda dari biasanya.

Dan 2016 ditutup dengan rejeki paling manis, dikasih kesempatan untuk dateng ke tanah suci dimana sebelumnya cuma bisa liat ka’bah dari foto orang lain sambil nanya “gue kapan yah?”, so do not under estimate the power of prays. Begitu doa lo terkabul, lo sendiri bisa ga siap untuk mendapatkan kejutan dariNya. Dengan hati yang masih suka congkak ini (padahal mah ga ada apa apanya dibanding kuasa Allah), sepanjang naik turunnya kehidupan gue, semua kembali ke hati gue yang harus memulai mempercayai kalau semua memang kuasa Allah, yang Maha membolak balikan hati, manusia harus berusaha dan berdoa, sisanya kita harus percaya kalau Allah sudah siapkan semua jawaban dari doa kita.

Akhirnya, gue tutup dengan bahagia dan tidur ditanggal 31 Desember, ga interest sama kembang api, bangun di 1 Januari 2017

dirumah!

 

with Love,

Dinda M. Shantidewi

 

Standard
life

Anak Ibu

Sering sekali menjadi perdebatan wanita itu lebih baik berkarir, atau dirumah saja? Apalagi yang sudah menjadi istri dan ibu dilihat dari sisi Islam ataupun umumnya, pertanyaan ini tidak akan pernah mendapatkan satu kesepakatan.

Sekedar cerita, ini riwayat hidup saya yang tumbuh dengan ibu yang bekerja sebagai wanita kantoran yang pergi pagi pulang malam.

Sedari memasuki umur 17/18 tahun, ibu sudah coba-coba bekerja. Saat itu ibu siswa SMEA jurusan sekretaris. Ibu dibekali ilmu mengetik 10 jari dengan mesin tik, mesin mengetik yang paling mutakhir pada jamannya. Ibu satu-satu anak perempuan dikeluarganya, dan bekerja dengan alasan bantu finansial keluarganya.

Hingga akhirnya ibu tumbuh menjadi wanita karir yang punya sejarah panjang dari company a hingga z. Sampai saat menikahpun, ibu tetap bekerja. Mulai dari punya anak pertama, hingga keempat, yaitu saya. Sempat Bapak minta ibu untuk berhenti bekerja agar bisa fokus dirumah, berhenti lah ibu dari tempat kerjanya. Tapi memang pada dasarnya ibu saya pekerja, ibu saya akhirnya tidak bisa diam dirumah, atas izin Bapak akhirnya Ibu melamar lagi bekerja.

Saat kecil saya diasuh oleh nenek dirumah. Masak dan kerapihan rumah sudah di urus oleh nenek. Masa kecil saya dipenuhi dengan pengawasan serta izin nenek yang saya panggil Mamah. Bagaimana bonding time ibu dan anak? Setiap pagi yang bangunin saya untuk sekolah adalah ibu, tiap buka mata yang dilihat ada raut muka Ibu. Sewaktu belum TK, saya selalu ikut bapak untuk anter ibu ke pool bus dari Tangerang ke Jakarta. Setiap hari selalu ada drama gamau ditinggal ibu bekerja, saya nangis sejadi-jadinya lalu saya pulang dan diurus dengan nenek.

Hari sabtu adalah hari paling membagiakan karena ibu tidak masuk kerja, pulang sekolah saya bisa lihat ibu dan sambutannya yang sedari Senin hingga Jumat tidak ada. Lebih membahagiakannya, terkadang Ibu datang ke Sekolah sekadar untuk jemput dan kami makan siang, lengkap dengan scene kami berjalan bergandengan tangan dengan satu lagi tangan Ibu membawa tas sekolah saya. Lalu pulangnya kami naik angkutan umum.  Setiap ada pengambilan rapor, Ibu akan cuti atau izin setengah hari dari kantor untuk hadir ambil rapor anak-anaknya.  Ada perasaan bangga tiap Ibu datang ke Sekolah dulu, pakaiannya paling necis, pakai blazer dan celana bahan, wangi parfum dan cara duduk tegak, selalu bawa catatan dan pulpen untuk jaga-jaga jika ada hal penting untuk ditulis.

Hingga saya kelas 1 SMP, Mamah, Ibu dari Ibu saya meninggal. Saya tidak diawasi lagi oleh beliau. Tidak ada lagi yang akan mengawasi saya untuk pulang sekolah on time tanpa main kerumah teman. Atau saat sore hari saya bisa bebas main kerumah tetangga lain. Tapi ternyata tidak, ibu saya memberlakukan syarat kalau pergi kemana-mana harus izin dulu ke Ibu, lalu ke Bapak. Restu bapak keluar, barulah ibu mengizinkan.

Hari-hari ketika pulang sekolah saya isi dengan sendiri, terkadang hingga sore baru pulang, ketika dirumah sudah ada kakak saya yang ketiga ada dirumah. Malam harinya ketika ibu pulang, barulah Ibu kerjakan apa yang biasa diurus oleh Mamah. Makan malam selalu jadi pertanyaan untuk tukang mana yang dapat rejeki dari keluarga kami malam itu. Terkadang jengah juga kalau setiap hari harus beli lauk. Atau kenapa harus sayur dan lauk-lauk itu-itu saja yang saya makan hanya karena itu yang mudah dimasak.

Saya sering melirik teman-teman yang punya Ibu dirumah dan melihat kondisi mereka lebih beruntung daripada saya. Ibunya selalu ada untuk masak makanan, bahkan mereka lebih bebas daripada saya yang Ibunya bekerja. Tapi saya juga tau, Ibu tetaplah harus bekerja untuk keluarga dan masa depan keluarganya.

Hari-hari berlalu hingga jadi tahun, Ibu tetaplah double agent, Ibu rumah tangga dan wanita karir. Kondisi yang tidak mudah untuk semua orang, apalagi Ibu saya yang skala pekerjaannya menjadi jauh lebih banyak. Belum lagi rasa kehilangan Ibu dengan orang terdekatnya, Mamahnya. Pasti lah Ibu ingin teriak setiap kali pulang kerumah dengan keadaan rumah masih sangat berantakan dan beliau harus menjadi ibu rumah tangga setiap malam. Saya yakin setiap Ibu kirim doa untuk orang tuanya, pastilah juga Ibu mengadu dengan hari-hari yang cukup berat ke Allah, dan ke Mamahnya, ibarat email akan seperti ini

To : Allah

Cc: Mamah.

Saya sengaja sebut Ibu rumah tangga dulu. Meskipun Ibu dari pagi hingga petang bekerja, Ibu tetap menjalankan misinya jadi Ibu yang memantau anak-anaknya, hingga cucu-cucunya saat ini. Setiap Ibu pulang, selalu ada cerita dikantornya bagaimana harinya dengan bossnya, rekan kerjanya, atau sekedar tadi makan siang dimana. Saya sangat familiar dengan orang-orang terdekat Ibu dikantor, karena saya pun sedari kecil kemudian sekolah, kuliah bahkan kerja, sering ikut Ibu kekantor.

Ibu tau banyak tentang Jakarta dan tempat jajan hits di sekitaran kantornya, paling sering saat saya mulai kerja, Hari Jumat adalah hari favorit untuk ketemu sama Ibu di Ambass sekedar untuk makan siang di warung padang langganan Ibu.

Bagaimana dengan sikap Ibu ke saya? Ada satu cerita, ketika saya dan Ibu berangkat pagi kuliah dan kekantor dengan commuter line. Tiap ada yang lewat untuk menawari Ibu jajanan, pastilah Ibu akan menanyakan saya dulu “dek, mau?” alhasil tiap keluar commuter line, minimal saya selalu punya bekal susu kedelai dan somay untuk sarapan. Tidak lupa pelukan dan ciuman hangat Ibu setiap saya pamit saat stasiun yang saya tuju sudah dekat. Scene pelukan dan ciuman hangat itu mungkin udah jadi tontonan sehari-hari orang-orang digerbong perempuan, awalnya agak segan takut dinilai orang berlebihan. Tapi saya pikir-pikir Ibu saya berhak dapat salam perpisahan dengan manis dan dihujani kasih sayang dari anaknya. Kita ga ada yang tau umur. Bisa aja salah satu dari kami ada yang harus “pamit” duluan, maka pamitlah dengan manis.

Ya, saya semanja dan se terikat itu dengan Ibu. Ibu saya yang double agent, a full time mom and a carrier woman. Saya tumbuh tidak kurang kasih sayang sedikitpun dari Ibu dan Bapak. level Kasih sayang :  full tank!

Hingga saya harus hijrah ke Surabaya pun, saya masih se terikat itu dengan Ibu. Telfon dan chatting, tidak pernah absen. Diumur saya yang hampir 25 tahun, saya tidak masalah untuk bilang “maklum, anak Ibu”. Jauh dari rumah dan dari keluarga adalah faktor terberat dari hijrah ini. Oleh Ibu saya dibiasakan untuk tidak ngekost saat kuliah ataupun bekerja, dan ketika pulang kerumah semalam apapun, setidak ada 1 pekerjaan rumah yang harus saya kerjakan. Ibu bilang, sewaktu saya dan kakak perempuan saya jadi Ibu nanti dan harus bekerja, tentunya tidak mungkin kami hanya kerja lalu pulang dan tidur, atau pindah ngekost didekat kantor supaya lebih mudah, realitanya ketika dirumah perempuan harus jadi Ibu rumah tangga dan banyak perkerjaan yang harus diurus, maka macet dijalan atau waktu tempuh yang lama bukanlah alasan untuk “mangkir” dari tanggung jawab utama.

Kira-kira begitu ringkasan hidup saya yang dibesarkan oleh Ibu yang bekerja tapi full time mom. Saya dibesarkan dengan Ibu yang  luar biasa juga penuh kasih sayang, dan tanpa pengabaian. Meskipun begitu, Ibu saya pernah pesan untuk cari kerja yang bisa untuk berkarir dirumah, sehingga nanti bisa mengurus anak tapi juga tetap berkarir. Jadi saya yakin, jauh didalam lubuk hati Ibu pun, berat pastinya untuk pergi bekerja sementara pikirannya selalu berputar di keluarga, tapi kalau bukan izin dari Allah pun, Ibu saya tidak akan bekerja sepanjang hidupnya hingga September ini akan pensiun di usia 58, ya kan?

Bahkan, di sela-sela pekerjaannya, Ibu banyak mendapatkan hidayah-hidayah dan ikut terlibat kegiatan agama di kantornya. Benar-benar rezeki setiap orang, materi atau cara berpahala sudah diatur oleh Allah.

Tidak ada pandangan buruk yang saya lihat dari ibu yang full time dan full day dirumah untuk urus keluarga sehingga tidak perlu memberatkan orang tuanya untuk urus anak dan rumahnya. Tapi sayapun angkat topi untuk Ibu saya dan Ibu-Ibu lainnya yang bekerja demi masa depan keluarganya. Hari-hari saya yang tidak bisa setiap pulang sekolah lihat Ibu mejadi begitu berharga tiap lihat Ibu ada dirumah saat saya pulang sekolah. Sekedar makan siang diluar adalah hal keren ibu dan anak yang berkarir seperti di serial tv. Atau pegangan tangan kami dikereta menjadi sangat erat karena tau kami akan berpisah sementara sebelum bertemu lagi dirumah.

Sesederhana itu.

 

love,

Anak Ibu.

 

 

 

Standard